Postingan

Pengabdian Guru, Telusuri 80 Kilometer Sehari

Gambar
Rumilah bersama Suami   TAK salah jika kaum perempuan memberontak untuk menuntut kesetaraan gender. Apapun pekerjaan yang dilaksanakan kaum pria, ternyata juga bisa dikerjakan perempuan.  Bukti etos kerja yang tinggi tanpa kenal lelah itu juga yang tampak terlihat di diri Siti Rumilah. Sejak tahun 1993—awal menjadi tenaga pendidik— Rumilah sudah dihadapkan dengan tugas dengan medan yang berat. Menjadi tenaga pengajar di SDN 6 Samuda Besar, Kecamatan Mentaya Hilir, perempuan kelahiran Nganjuk harus pulang pergi dari Sampit menuju Samuda setiap hari. Jika jarak tempuh dari Sampit menuju Samuda sekitar 40, maka setiap hari Rumidah menghabiskan 80 kilometer perjalanannya untuk menularkan ilmu yang dimilikinya.  Dengan sepeda motor tua dan jalan yang belum sebaik sekarang, Rumilah tetap menjalani keseharian itu. Satu tekad yang membuatnya teguh adalah pengabdian untuk meningkatkan pendidikan.  Ditugaskan di luar perkotaan dengan gaji saat itu Rp 88 ribu, Ruminah tetap pun...

Dewan Pendidikan Kunjungan ke Kota Malang (2)

Gambar
Pertemuan Ketua DP Kotim Heriansyah dengan penghuni asrama mahasiswa dan pelajar Kotim di Kota Malang  Kunjungan Singkat Ketua DP ke Asrama Mahasiswa Kotim di Malang (2-habis)  Perlu Gebrakan untuk Menggeliatkan Keberadaan IPMK Organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kotim (IPMK) dibentuk untuk mengeratkan talisilaturahmi para pelajar dan mahasiswa Kotim yang menempuh pendidikan di luar kota. Sayang, keberadaan IPMK Kotim di Kota Malang, Jawa Timur tidak dimanfaatkan secara maksimal. Organisasi itu pun tampak stagnan dan minim aktivitas. ARIFIN, Malang   KEBERADAAN IPMK di Malang sudah lama terbentuk. Dulunya organisasi ini memiliki banyak aktivitas, namun seiring berjalannya waktu, keberadaan oraganisasi ini tak banyak aktivitas. Apalagi warga Kotim yang menempuh pendidikan di Kota Malang pun masih banyak yang tidak bergabung dalam organisasi ini.  “Sebenarnya jumlah pelajar dan mahasiswa di Kota Malang cukup banyak hanya saja karena terkotak-kotak sehingga suli...

Dewan Pendidikan Kunjungan ke Kota Malang (1)

Gambar
Ketua DP Kotim Heriansyah dan sekretarisnya Fahruddin Idris bersama mahasiswa Kotim di Kota Malang.  Kunjungan Singkat Ketua DP ke Asrama Mahasiswa Kotim di Malang (bagian-1)  Dipesani Jaga Kebersihan dan Buat Program Aksi Sosial Asrama mahasiswa dan pelajar Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di Kota Malang, Jawa Timur berada di jalur strategis. Bangunan yang dihuni 18 mahasiswa asal Kotim ini berada di tepi jalan Mayjen Panjaitan No 14 Malang.  ARIFIN, Malang SIANG itu saat matahari tepat berada di atas kepala suasana asrama mahasiswa Kotim di Kota Malang tampak sepi. Hanya ada dua buah kendaraan roda dua yang terparkir di teras rumah. Halaman rumah juga terlihat kotor, bahkan penutup selokan sudah ada yang pecah.  Untuk masuk ke dalam perlu ekstra hari, jika tak ingin kendaraan roda dua yang anda tumpangi terperosok ke dalam parit kecil. Bersama Ketua Dewan Pendidikn (DP) Kotim H Heriansyah dan didampingi sekretarisnya Fahruddin Idris,  kunjungan singkat k...

SMP 1 Cempaga Pusat Internet

Gambar
SAMPIT – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencanangkan SMP 1 Cempaga Kecamatan Cempaga untuk dijadikan pusat internet. Tujuannya untuk memberikan pembekalan kepada siswa untuk mengetahui tentang teknologi sesuai dengan kurikulum.   Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kotim Agus Suryo Wahyudi mengatakan, pencanangan itu dikarenakan SMPN 1 Cempaga ini merupakan satu-satunya sekolah yang berada di ibukota kecamatan dengan jumlah rombongan belajar (rombel) dan ruang kelasnya yang cukup banyak. “Dengan adanya internet nantinya akan membantu guru-guru dalam proses belajar mengajar. Misalnya, memberikan tugas melalui situs sekolah yang telah dirancang dan dibuat oleh sekolah,” ungkapnya kemarin (15/2). Meskipun ada rencana menjadikan SMPN 1 Cempaga sebagai tempat pusat internet, mantan Kabid Dikdas ini tidak mau menjanjikan bisa terealisasi dalam waktu dekat mengingat sebelumnya harus dilakukan uji kelayakan....

Sekolah Swasta Harus Mampu Bersaing

Gambar
Salah satu sekolah di Kota Bandung, Jawa Barat melarang siswanya membawa handphone saat proses belajar mangajar.  BANDUNG – Keberadan sekolah swasta (baca: SD, SMP dan SMA/SMK) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih kalah pamor dengan sekolah negeri. Ini bisa terlihat saat penerimaan peserta didik baru (PPDB), dimana sekolah swasta masih dianggap sebagai alternatif terakhir. Sementera sekolah negeri menjadi banyak buruan calon siswa.  Agar sekolah swasta mampu bersaing dengan sekolah negeri Dewan Pendidikan (DP) Kotim memiliki strategi khusus. Salah satunya memaksimalkan sekolah swasta untuk menonjolkan kemampuan yang dimilikinya.  “Kenapa itu harus dilakukan? Dari hasil studi banding kita di Bandung, sekolah swasta semuanya melakukan hal itu. Nah, kenapa di Kotim tidak kita terapkan seperti itu juga?”kata Ketua Dewan Pendidikan Kotim Heriansyah.  Sebagai langkah awal perlu dilakukan workshop dan seminar dengan mengundang seluruh sekolah swasta termasuk juga k...

Dorong Tonjolkan Keunggulan

ARIFIN/RADAR SAMPIT DISIMPAN : Salah satu sekolah di Kota Bandung, Jawa Barat melarang siswanya membawa handphone saat proses belajar mangajar. Sekolah Swasta Agar Mampu Bersaing SAMPIT – Keberadan sekolah swasta (baca: SD, SMP dan SMA/SMK) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih kalah pamor dengan sekolah negeri. Ini bisa terlihat saat penerimaan peserta didik baru (PPDB), dimana sekolah swasta masih dianggap sebagai alternatif terakhir. Sementera sekolah negeri menjadi banyak buruan calon siswa. Agar sekolah swasta mampu bersaing dengan sekolah negeri Dewan Pendidikan (DP) Kotim memiliki strategi khusus. Salah satunya memaksimalkan sekolah swasta untuk menonjolkan kemampuan yang dimilikinya. “Kenapa itu harus dilakukan? Dari hasil studi banding kita di Bandung, sekolah swasta semuanya melakukan hal itu. Nah, kenapa di Kotim tidak kita terapkan seperti itu juga?”kata Ketua Dewan Pendidikan Kotim Heriansyah. Sebagai langkah awal perlu dilakukan workshop dan seminar dengan mengun...

komite sekolah

Gambar
ARIFIN/RADAR SAMPIT KUNJUNGAN KERJA : Rombongan DP Kotim, Komisi I DPRD Kotim bersama DP Kabupaten Bandung. Tidak Lagi Didominasi Kaum Pria SAMPIT – Terinspirasi dari hasil studi banding ke Dewan Pendidikan (DP) Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat bahwa ketua Komite Sekolah didominasi kaum perempuan membuat DP Kotim berupaya untuk mengikuti jejaknya. Studi banding itu dilakukan bukan hanya DP Kotim tapi juga Komisi I DPRD Kotim, 8-12 Februari lalu. Ketua DP Kotim H Heriansyah mengatakan seorang perempuan yang menjabat sebagai ketua komite sekolah bukanlah hal tabu di Bandung, justru itu dinilai lebih efektif dibandingkan laki-laki. “Menjadi ketua komite sekolah dikalangan perempuan sudah hal biasa di Bandung ini. Dan ini merupakan persamaan gender artinya tidak membedakan siapa saja berhak untuk menjabat sebagai ketua," ungkapnya. Dia menambahkan, dan ini bisa diterapkan di Kabupaten Kotim mengingat dengan diberlakukannya persamaan gender membuka kesempatan da...

mahasiswa bandung minta asrama

Gambar
MINTA PERHATIAN : Mahasiswa asal Kotim yang menempuh pendidikan di Kota Bandung, Jawa Barat. Curhat Mahasiswa Kotim di Bandung Kepada Anggota DPRD Kotim Tuntut Keadilan Pemerintah, Minta Dibangunkan Asrama Dibanding daerah lain di Pulau Jawa, mahasiswa asal Kabupaten Kotawaringin yang menempuh pendidikan di Kota Bandung, Jawa Barat masih dianggap sebelah mata. Fasilitas berupa asrama yang dibangun Pemkab Kotim seperti di Jogjakarta, Malang, Banjarmasin, justru tidak ditemukan di Kota Bandung. ARIFIN, Bandung HINGGA saat mahasiswa asal Kabupaten Kotawaringin (Kotim) yang menuntut pendidikan di Kota Bandung, Jawa Barat mengeluhkan tidak adanya asrama untuk tempat tinggal mereka. Alternatif lain terpaksa ngekost dengan biaya yang cukup tinggi. Ketidaktersediaannya asrama khusus untuk mahasiswa asal Kotim ini berdampak pada pemetaan jumlah jumlah mahasiswa asal Kotim di kota kembang ini. Karenanya, mereka berharap Pemkab Kotim bisa berlaku adil dengan membangunkan asrama bagi mahasiswa K...

studi banding DPRD dan DP Kotim

Gambar
ARIFIN/RADAR SAMPIT Kunjungan Komisi I DPRD Kotim dan Dewan Pendidikan Kotim ke SMA 8 Kota Bandung. Catatan Studi Banding Komisi I dan Dewan Pendidikan Kotim ke Bandung Berdayakan Peran Kominte Sekolah untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Rangkaian studi banding Komisi I DPRD Kotim dan Dewan Pendidikan (DP) Kotim ke Dewan Pendidikan Kota Bandung, Jawa Barat berakhir. Kegiatan yang dilaksanakan sejak 8-12 Februari menghasilkan beberapa rekomendasi yang nantinya bisa diterapkan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). ARIFIN, Kota Bandung ROMBONGAN asal Kotim yang melakukan studi banding terdiri dari Ketua Komisi I DPRD Kotim Marwan, Sekretaris Komisi I Sa’ban H Mansyur, Ketua Dewan Pendidikan Kotim H Heriyansyah dan sekretarisnya Fahrudin Idris. Dalam kunjungan tersebut mereka disambut Ketua Dewan Pendidikan Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat Hj Kusmeni S Hartadi beserta jajarannya. Hasil studi banding yang dilakukan melahirkan beberapa poin utama yang bisa diimplementasikan di Kabupaten K...

Maksimalkan Donatur Daerah

Gambar
ARIFIN/RADAR SAMPIT FOTO BERSAMA : Komisi I DPRD Kotim bidang pendidikan dan dewan pendidikan Kotim foto bersama dengan dewan pendidikan kota bandung Jawa Barat Bangun Dunia Pendidikan di Daerah BANDUNG – Membangun dunia pendidikan bukan menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Tapi juga perlu melibatkan pihak ketiga dalam hal ini para donatur. Apalagi tidak semua pendidikan bisa didanai menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS) pusat maupun daerah. “Disinilah peran serta pihak ketiga. Misalnya untuk memperbaiki plafon sekolah yang rusak,” kata Kepala Dewan Pendidikan Kota Bandung, Jawa Barat Hj Kusmeni dihadapan rombongan asal Kotim yang terdiri dari Ketua Komisi I DPRD Kotim Marwan dan sektretarisnya Sa’ban H Mansyur, Ketua Dewan Pendidikan Kotim H Heriansyah dan Sekretarisnya Fahrudin Idris, Rabu lalu (8/2). Dalam kunjungan tersebut DPRD Kotim dan Dewan Pendidikan Kotim juga melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di Kota Bandung. Hj Kusmeni menyebutkan donatur daerah...

Cerita Sehari di Kecamatan Antang Kalang

Gambar
Ke Antang Kalang setelah Tiga Tahun Menjadi Kecamatan Transportasi Sulit, Pagi dan Siang tanpa Listrik. Kecamatan Antang Kalang merupakan salah satu kecamatan pemekaran di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi jalan licin pada saat musim penghujan dan berdebu pada saat kemarau, menjadi potret akses transportasi untuk menuju ke kecamatan tersebut.  ARIFIN , Antang Kalang SELASA (10/1) siang setelah mengikuti kegiatan di Aula Kecamatan Parenggean, saya bersama tim fasilitasi dan pembinaan Anggaran Dana Desa (ADD) Kabupaten Kotim melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Antang Kalang.  Pada saat itu kami menggunakan dua mobil jenis. Sebelum berangkat, saya berpikiran di perjalanan akan bisa menikmati pemadangan hutan khas Kalimantan. Namun harapan itu meleset. Sepanjang jalan, di kanan kiri jalan hanya terhampar pohon kelapa sawit. Hutan yang saya bayangkan tak tampak sama sekali.  Selain disuguhi rimbunnya pohon kelapa sawit, jalan yang berliku, menanjak dan meniku...

Ruang Kelas Terbatas

Gambar
JEPRETAN : ARIFIN/RADAR SAMPIT MEMPRIHATINKAN : Lantaran kekurangan kelas murid SDN 7 Ketapang belajar di rumah warga. Pinjam Rumah Warga untuk proses belajar mengajar SAMPIT – Sorotan terhadap kurangnya sarana pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), seakan tak ada habisnya. Parahnya, kondisi memprihatinkan itu tidak hanya ditemukan di sekolah-sekolah di pelosok, tetapi juga di kawasan kota Sampit. Kali ini giliran kondisi SDN 7 Ketapang Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Karena keterbatasan ruang kelas, sebagian siswa setempat terpaksa belajar di sebuah rumah yang kondisinya memprihatinkan. Itu pun, penggunaan rumah tersebut atas kemurahan hati sang pemilik rumah yang merasa peduli terhadap kondisi sekolah tersebut. Kondisi ini sudah berlangsung lama sekitar dua tahun mengingat SDN 7 Ketapang lokasinya berada di area perumahan, tepatnya di perumahan Sawit Raya Jalan Jenderal Sudirman Km 6 arah Sampit-Pangkalan Bun. Jumlah seluruh siswa di sekolah itu 17...

Hujan Turun, Pelajaran Dihentikan

Gambar
ARIFIN/RADAR SAMPIT MEMPRIHATINKAN – Siswa kelas VI SDN 2 Luwuk Kama Desa Jemaras Kecamatan Cempaga terpaksa memanfaatkan rumah guru untuk proses belajar mengajar karena keterbatasan ruang kelas. Memprihatinkan, Rumah Guru Jadi Kelas SAMPIT – Terbatasnya ruang kelas, membuat pihak SDN 2 Luwuk Kama Desa Jemaras Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), harus putar otak agar anak didik mereka tetap bisa belajar. Bahkan, rumah dinas yang seharusnya dijadikan tempat tinggal para guru, akhirnya harus direlakan untuk dijadikan ruang kelas. Sebelumnya, berbagai cara lain juga dilakukan oleh pihak sekolah untuk menyiasati keterbatasan ruang kelas. Salah satunya adalah dengan menyekat salah satu ruangan sehingga bisa digunakan untuk dua kelas berbeda, meski tentu sangat tidak nyaman karena proses belajar mengajar kedua kelas tersebut hanya dibatasi sekat alakadarnya. Penggunaan rumah dinas guru menjadi ruang kelas terjadi sejak 2009 lalu. Rumah dinas yang kondisinya juga cukup mem...

Ruang Kelas Dibuat Bersekat

Gambar
ARIFIN/RADAR SAMPIT TERGANGGU : Siswa Kelas IV dan V SDN 2 Luwuk Kama Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga cukup terganggu karena belajar di satu ruang yang sama dengan hanya dibatasi sekat. Satu Ruang Untuk Dua Kelas SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim)masih harus terus meningkatkan sarana dan prasaranan pendidikan di daerah ini. Mengingat, masih banyak siswa yang harus belajar di sekolah yang kondisinya tidak nyaman karena berbagai keterbatasan. Seperti di SDN 2 Luwuk Kama Desa Jemaras Kecamatan Cempaga, keterbatasan ruang kelas membuat pihak sekolah mengambil kebijakan menggabungkan sejumlah kelas saat belajar. Siswa kelas IV dan V harus belajar di satu ruang yang sama hanya dengan dibatasi sekat di bagian tengah ruangan. Hal itu dilakukan karena ruang yang ada tidak mencukupi. Selain membuat sekat, sekolah yang posisinya berada dipinggir jalan poros Sampit-Palangka Raya ini juga memberlakukan jadwal masuk kelas pagi dan siang, terutama untuk kelas II. Kepala SDN 2 Lu...

Nelly Suriani Purba

Gambar
Cerita Nelly Suriani Purba, Guru Bahasa Indonesia di Desa Terpencil Sulit beradaptasi karena Mayoritas Anak Menggunakan Bahasa Ibu Menjadi tenaga pendidik terutama di desa terpencil tidaklah gampang. Banyak rintangan yang dihadapi. Salah satunya sulit berkomunikasi karena mayoritas siswa menggunakan bahasa ibu dan bahasa Indonesia masih dianggap bahasa asing bagi mereka. ARIFIN, Sampit TAHUN 1987 merupakan awal perjalanan Nelly Suriani Purba menginjakkan kakinya di Desa Buntut Bali, Kabupaten Katingan (dulu masih masuk Kabupaten Kotawaringin Timur). Dia ditugaskan sebagai guru bahasa Indonesia di SMPN 1 Pulau Malan. Dari situlah awalnya dia mulai memperkenalkan bahasa Indonesia kepada anak didiknya. Meskipun hanya 2 tahun bertugas di SMPN 1 Pulau Malan, Nelly memiliki pengalaman yang tidak pernah dia lupakan yakni sulitnya melakukan komunikasi kepada warga setempat terlebih-lebih dengan anak didiknya. Pasalnya, bahasa pengantar yang disampaikan pada saat berkomunikasi mengunakan bahasa...

Janjikan Tambahan Ruang Kelas

Gambar
Jepretan Arifin Radar Sampit BELAJAR : Sejumlah murid SDN 3 Sawahan belajar dibawah pohon SDN 3 Sawahan Dibanjiri Pejabat SAMPIT– Kondisi memprihatinkan siswa SDN 3 Sawahan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang terpaksa belajar di bawah pohon karena kekurangan ruang kelas, seakan membuat pihak terkait kebakaran jenggot. Setelah berita itu muncul di koran ini, sejumlah pihak ramai-ramai datang ke sekolah tersebut dan berjanji akan memperjuangkan penambahan ruang kelas. Pantauan Radar Sampit, Selasa (4/10) pagi, proses belajar mengajar sejumlah siswa yang terpaksa belajar di alam terbuka, tetap berjalan seperti biasa. Namun kemarin perhatian mereka sedikit terbagi karena kebanjiran tamu sejumlah pihak terkait, yakni pejabat terkait yang ingin melihat langsung kondisi proses belajar mengajar di sekolah itu. Paling awal datang ke lokasi adalah Kepala UPTD Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kecamatan MB Ketapang Syahmubin, disusul Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Kotim Heriansya...

Terpaksa Belajar di Bawah Pohon

Gambar
ARIFIN/RADAR SAMPIT BELAJAR DILUAR RUANGAN : Sejumlah murid SDN 3 Sawahan belajar dialam terbuka karena tidak adanya ruang kelas yang digunakan untuk proses belajar mengajar. SAMPIT – Untuk membuktikan masih kurangnya fasilitas pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ternyata tidak perlu jauh-jauh ke pelosok. Di dalam kota Sampit, ternyata juga ada siswa Sekolah Dasar (SD) yang harus belajar dengan fasilitas yang jauh dari kata ideal. Keterbatasan ruang belajar bagi kelas I dan II SDN 3 Sawahan memaksa para murid itu harus mengikuti proses belajar mengajar di alam bebas. Memprihatinkan, karena mereka harus belajar di bawah pohon dengan hanya beralaskan terpal. Suasana belajar seperti itu tentu bukan sesuatu yang nyaman bagi para siswa setempat. Selain kurang konsentrasi karena suara guru sering kalah keras dengan suara warga atau lalu lintas di kawasan itu, perhatian para siswa juga terkadang terpecah karena banyak warga yang memperhatikan proses belajar-mengajar yang sedan...

Raudhatul Atfhal Kotim belum terakreditasi

SAMPIT – Sebanyak 31 Raudhatul Atfhal (RA) yang tersebar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) hingga saat ini belum ada satupun yang memegang lebel akreditasi. Padahal akreditasi itu penting bagi madrasyah untuk dimiliki. Akreditasi merupakan alat regulasi diri (self-regulation) agar madrasah mengenal kekuatan dan kelemahannya, kemudian melakukan upaya yang terus menerus untuk meningkatkan kekuatan serta memperbaiki kelemahan yang dimilikinya. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Kotim Akhmad Syarkawi melalui Kasi Mapenda Islam H Rusdi mengatakan, madrasyah bukannya tidak ingin mendapatkan akreditasi melainkan merasa rendah diri karena sarana dan prasarana yang dimiliki banyak kekurangannya. “Ini jawaban dari pihak madrasyah bahwa mereka tidak pantas untuk mengikuti penilaian akreditasi karena madrasyah yang dikelola yayasan masih jauh dari standar pelayanan,” ungkapnya melalui sambungan telepon, kemarin (19/9). Semestinya, lanjut Rusdi, pihak madrasyah jangan mer...

Peseeta Prakerin SMK PGRI Sampit Diberikan Pembekalan

Gambar
MENCATAT MATERI  : S iswa Prakerin SMK PGRI Sampit sedang menyimak dan mencatat materi yang disampaikan oleh pamateri pada saat pembekalan.  Pembekalan siswa prakerin sebelum memasuki dunia kerja patuhi semua aturan, input data yang akurat Untuk mengembangkan sikap berkompetensi yang profesional sebelum diterjunkan kelapangan guna mengikuti praktik kerja industri (Prakerin), sebanyak 143 siswa SMK PGRI Sampit kelas XI jurusan Akuntansi dan Penjualan diberikan pembekalan yang dipusatkan diruangan sekolah.    ARIFIN , Sampit Pembekalan prakerin itu disampaikan beberapa narasumber dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI) diantaranya, Koperasi Unit Desa (KUD) Kecamatan Baamang, Rezeki Swalayan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotim dan Mars Komputer. Sekitar 35 DU/DI baik dari instansi pemerintahan negeri dan swasta yang bersedia menerima para siswa prakerin ini yang dimulai ...

20 Persen Pegawai Disdikpora Absen

Gambar
Jepretan Arifin/Radar Sampit PULANG SEKOLAH : Pelajar SD dan SMP ketika pulang sekolah Di Hari Pertama Masuk Kerja SAMPIT–Hari pertama masuk kerja masih ada saja para pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak masuk kerja. Salah satunya ada di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kotim. Di dinas yang dipimpin Agus Suryo Wahyudi ini sekitar 20 persen pegawainya absen alias tidak masuk kerja. Banyaknya PNS yang absen terungkap saat bupati Kotim H Supian Hadi melakukan inspeksi mendadak (sidak), kemarin pagi (5/9). Sidak dilakukan sekitar pukul 09.30 Wib. Kehadiran bupati mengejutkan para PNS di Disdikpora. Saat tiba, bupati langsung menemui kepala Disdikpora. “Mana absensi pegawai, berapa persen yang hadir dan berapa persen yang tidak hadir,” tanya Supian kepada kepala Disdikpora Kotim. Dijawab Agus,”Yang hadir sekitar 80 persen dan tidak hadir 20 persen.” Setelah mendapatkan keterangan singkat dari Kadis Dikpora Kotim, kemudian Bupati termuda di Kalteng ini meningg...